Pages

Jumat, 12 November 2010

Makalah Ulumul Quran : Nuzulul Quran

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang masalah
Dalam mempelajari ilmu Al-Quran, ada beberapa hal yang penting untuk dipelajari dan salah satunya adalah bagaimana Al-Quran diturunkan dan bagaimana Al-Quran itu dibukukan pada masa khulafaur Rasyidin. Karena dengan mengetahui bagaimana proses pengumpulan Al-Qur’an kita dapat mengerti bagaimana usaha-usaha para sahabat untuk tetap memelihara Al-Quran.
Secara etimologi Al-Quran berarti qira’at berasal dari kata dasar qara’a yang berarti mengumpulkan dan menghimpun, yaitu menghimpun huruf dan kata yang tersusun sehingga menjadi qira’ah (bacaan) yang bermaknakan maqru’ (sesuatu yang dapat dibaca).
Menurut istilah Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantara malakat Jibril dengan bahasa Arab, diriwayatkan secara mutawatir, merupakan mukjizat dan membacanya merupakan ibadah.
1.2 Rumusan Makalah
1. Apa pengertian Nuzulul Qur’an?
2. Kapan Nuzulul Qur’an terjadi?
3. Bagaimana cara turunnya Al Qur’an? Apa bukti dan hikmahnya?
4. Bagaimana pemeliharaan Al Qur’an pada masa nabi Muhammad dan para Sahabat?
5. Jelaskan perkembangan tulisan Al Qur,an
1.3 Tujuan Makalah
Tujuan penulis membuat makalah ini adalah untuk mengetahui ilmu nuzulul Quran yang meliputi turunnya Al Qur’an (nuzulul Qur’an), cara-cara penurunan Al Qur’an, bukti dan hikmah turunnya Al Qur’an, sejarah pemeliharaan Al Qur’an pada masa nabi, masa sahabat, dan perkembangan tulisan Al Qur’an dari pertama di mushafkan sampai sekarang.





BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Nuzulul Qur’an dan waktu turunnya
Nuzulul Qur'an artinya adalah turunnya Al-Qur'an. Turunnya Al-Qur'an untuk yang petama kalinya biasa diperingati oleh umat Islam yang dikemas dalam suatu acara ritual yang disebut dengan Nuzulul Qur'an. Turunnya Al-Qur'an untuk yang pertama kalinya merupakan tonggak sejarah munculnya satu syari'at baru dari agama tauhid yaitu agama Islam. Sebagai penyempurna dari agama-agama tauhid sebelumnya.

Al-Qur'an turun sebagai pemecah kebuntuan di saat bejatnya moral bangsa Arab sudah sampai pada puncaknya, budaya jahiliyah lagi merajalela, barbarismenya hukum padang pasir dengan filosofi siapa yang kuat dialah yang menang dan hancurnya tatanan kemasyarakatan karena tidak adanya aturan hukum yang baku. Oleh karena itulah Allah membuat satu penyelamatan dengan sebuah skenario yang jitu yang menyelamatkan bangsa Arab dari kehancuran dengan diutusnya seorang nabi akhir zaman yaitu Muhammad saw.

Menurut tarikh Islam, Al-Qur'an turun untuk pertama kalinya pada tanggal 17 Ramadhan di saat Muhammad sedang berkhalwat (semedi) di gua Hira. Firman Allah: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya(Al-Qur'an) pada malam kemuliaan"(97:1). Yang dimaksud dengan malam kemuliaan menurut para ulama adalah malam lailatul qadar. Atau dalam ayat lain Allah mengatakan: "Haa miim [Demi kitab (Al-Qur'an ) yang menjelaskan]. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan" (44 : 1 - 3). Gua Hira yaitu gua yang terletak di Jabal Nur kurang lebih 2 km dari kota Makkah. Di gua itulah Muhammad merenung dan berfikir meminta petunjuk kepada yang Maha Kuasa untuk merubah moral bangsanya yang sudah melebihi batas toleransi. Saat itulah beliau didatangi Malaikat Jibril yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu untuk yang pertama kalinya, dan saat itu Muhammad berusia 40 tahun. Yang paling menarik dari proses turunnya wahyu itu adalah disaat Jibril memerintahkan kepada Muhammad untuk iqra(membaca). Jibril mengatakan: "Iqro yaa Muhammad !" (Bacalah hai Muhammad). Saat itu Muhammad menjawab: "Maa ana biqori ?" "Apa yang harus aku baca?".



Selanjutnya Jibril membacakan beberapa ayat dari surat Al-Alaq(96) yang kemudian diikuti oleh Muhammad dengan lancar dan fasih: "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya". (96 : 1 - 5)

Inilah ayat yang pertama turun yang menjadi tonggak sejarah bagi umat Islam dan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya Allah menurunkan ayat-ayat Al-Qur'an lainnya selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Tapi kita perlu ketahui bahwa Al-Qur'an ini benar benar wahyu Allah, bukan rekayasa bangsa Arab dan bukan hanya untuk bangsa Arab saja. sehingga Al-Qur'an tetap terjaga kemurniannya sampai akhir zaman. "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami yang benar-benar menjaganya".(15 : 9) Para mufassir (ahli tafsir) menjelaskan yang dimaksud dengan "Kami" di sini bahwa Allah juga melibatkan orang-orang mu'min yang huffadh (hapal) Qur'an untuk menjaga kemurnian Al-Qur'an.

B. Cara cara turunnya Al Qur’an
Allah menurunkan alquran kepada manusia melalui 3 kali tahap penurunan.
1. Di lauhil mahfudz yang semua orang tidak tau kapan, tangal, bulan, tahunnya berapa ketika turun ?
Ibnu katsir lewat riwayat ibnu khatam:
“Ma min syai’in qodo allah al quran wama qoblahu wama ba’dahu illa bil lauhil mahfudz”
Artinya: “apapun yang di qodo’ Allah sebelum dan sesudah alquran , semuanya itu di letakkan di lauhil mahfudz dan tak tau dimana itu letaknya dan tidak diijinkan siapaun tau tentang lauhil mahfudz.
Adapun jumlahnya seklaigus atau jumlatan wahidatan.

2. Dari lauhil mahfudz ke baitul ‘izza (سماء الدنيا) yaitu langit yang pertama yang tampak ketika dilihat di dunia ini namun tidak diketahui letak persisinya. Adapun jumlahnya adalah semuanya (jumlatan wahidatan) pada waktu lialatul qodar. Namun tanggalnya tidak diketahuai, adapaun bulannya sudah jelas pada bulan romadhon.
Inna anzalnahu fi lailatil al qodri Syahru ar-romadhona alladzi unzila fiihi alquran. Semuanya ayat tadi itu menunjukkan bahwasannya penurunan alquran dari lauhil mahfudz ke baitul ‘izzah.

3. Dari baitul ‘izzah ke rosulallah.
Penurunannya tidak sekaligus, namun diangsur-angsur berdasarkan kebutuhan, peristiwa, atau kejadian atau bahkan permintaan lewat malaikat jibril.
Sebenarnya, malaikat Jibril telah menyampaikan firman-firman Allah atau Al Qur’an kepada Nabi Muhammad dengan beberapa cara. Berikut ini adalah beberapa cara turunnya AlQur’an kepada Nabi Muhammad saw.
• Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad saw. tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Rasulullah tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya.
• Suatu ketika, malaikat Jibril juga pernah menampakkan dirinya sebagai seorang laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi saw. Itulah salah satu metode lain yang digun akan malaikat Jibril untuk menyampaikan Al Qur’ an kepada Nabi Muhammad saw.
• Yang selanjutnya, wahyu juga turun kepada Nabi Muhammad saw. seperti bunyi gemerincing lonceng. Menurut Rasulullah, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai beliau mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim yang sangat dingin.
• Cara yang lain adalah malaikat Jibril turun membawa wahyu kepada Nabi Muhammad saw. dengan menampakkan wujudnya yang asli.

Rasulullah saw. senantiasa menghafalkan setiap wahyu yang diterimanya. Beliau mampu mengulangi wahyu tersebut dengan tepat, sesuai dengan apa yang telah disampai kan oleh malaikat Jibril. Dalam hal ini, malaikat Jibril juga berperan untuk mengontrol hafalan Al Qur’an Rasulullah saw. Al Qur’an diturunkan dalam dua periode. Periode pertama dinamakan Periode Mekah. Turunnya Al Qur’an pada periode pertama ini terjadi ketika Nabi saw. bermukim di Mekah (610 – 622 M) sampai Nabi Muhammad saw. melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu, kemudian disebut dengan ayat-ayat Makiyah, yang berjumlah 4.726 ayat dan terdiri atas 89 surat. Periode yang kedua adalah Periode Madinah. Sebuah periode yang terjadi pada masa setelah Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah (622 – 632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini kemudian dinamakan ayat-ayat Madaniyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat.

C. Sejarah Pemeliharaan Al Qur’an pada Masa Nabi dan Sahabat
1. Pada Masa Nabi Muhammad SAW
Pada permulaan Islam bangsa Arab adalah satu bangsa yang buta huruf; amat sedikit diantara mereka yang pandai menulis dan membaca. Kendatipun bangsa Arab pada waktu itu masih buta huruf, tetapi mereka mempunyai ingatan yang amat kuat. Pada masa nabi, Al Qur’an hanya ditulis dalam kulit binatang, batu yang tipis dan licin, pelepah tamar (korma), tulang binatang dan lain sebagainya. Nabi mengadakan peraturan, yaitu Al Qur'an sajalah yang boleh dituliskan, selain dari Al Qur'an, Hadits atau pelajaran-pelajaran yang mereka dengar dari mulut Nabi, dilarang menuliskannya.
Larangan ini dengan maksud supaya Al Qur'anul Karim itu terpelihara, jangan campur aduk dengan yang lain-lain yang juga didengar dari Nabi.

2. Pada Masa Abu Bakar
Sesudah Rasulullah wafat, para sahabat baik Anshar maupun Muhajirin, sepakat mengangkat Abu Bakar menjadi Khalifah. Pada awal masa pemerintahannya banyak diantara orang-orang Islam yang belum kuat imannya. Terutama di Najed dan Yaman banyak diantara mereka yang menjadi murtad dari agamanya, dan banyak pula yang menolak membayar zakat. Disamping itu ada pula orang-orang yang mengaku dirinya sebagai nabi. Kemudian, Abu Bakar memerangi umat islam yang murtad dan yang tidak mau membayar zakat. Akibat peperangan itu, banyak penghafal penghafal Al Qur’an yang gugur. Muncullah gagasan dari sahabat Umar untuk mengumpulkan ayat ayat Al Qur’an menjadi satu. Gagasan tersebut disetujui oleh Abu Bakar. Dalam usaha mengumpulkan ayat-ayat Al Qur'an itu Zaid bin Tsabit bekerja amat teliti.
Sekalipun beliau hafal Al Qur'an seluruhnya, tetapi untuk kepentingan pengumpulan Al Qur'an yang sangat penting bagi umat Islam itu, ia masih memandang perlu mencocokkan hafalan atau catatan sahabat-sahabat yang lain dengan disaksikan oleh dua orang saksi.
Dengan demikian Al Qur'an seluruhnya telah ditulis oleh Zaid bin Tsabit dalam lembaran-lembaran, dan diikatnya dengan benar, tersusun menurut urutan ayat-ayatnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Rasulullah, kemudian diserahkan kepada Abu Bakar.

Mushhaf ini tetap ditangan Abu Bakar sampai ia meninggal, kemudian dipindahkan ke rumah Umar bin Khaththab dan tetap ada disana selama pemerintahannya.
Sesudah beliau wafat, Mushhaf itu dipindahkan ke rumah Hafsah, puteri 'Umar, isteri Rasulullah sampai masa pengumpulan dan penyusunan Al Qur'an dimasa Khalifah Utsman.

3. Pada Masa Utsman bin Affan
Dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, pemerintahan mereka telah sampai ke Armenia dan Azarbaiyan di sebelah timur, dan Tripoli di sebelah barat. Dengan demikian terlihatlah bahwa kaum Muslimin diwaktu itu telah terpencar-pencar di Mesir, Syria, Irak, Persia dan Afrika. Kemana mereka pergi dan dimana mereka tinggal Al Qur'anul Karim itu tetap jadi Imam mereka, diantara mereka banyak yang menghafal Al Qur'an.
Pada mereka ada naskah-naskah Al Qur'an, tetapi naskah-naskah yang mereka punyai itu tidak sama susunan surat-suratnya.
Begitu juga ada didapat diantara mereka perbedaan tentang bacaan Al Qur'an itu.
Asal mulanya perbedaan bacaan ini ialah karena Rasulullah sendiripun memberi kelonggaran kepada kabilah-kabilah Arab yang berada dimasanya, untuk membaca dan melafazkan Al Qur'an itu menurut "lahjah" (dialek) mereka masing-masing.
Kelonggaran ini diberikan oleh Nabi supaya mereka mudah menghafal Al Qur'an.
Tetapi kemudian kelihatan tanda-tanda bahwa perbedaan tentang bacaan Al Qur'an ini kalau dibiarkan, akan mendatangkan perselisihan dan perpecahan yang tidak diinginkan dalam kalangan kaum Muslimin.
Maka oleh Khalifah Utsman bin Affan dimintakan kepada Hafsah binti Umar lembaran-lembaran Al Qur'an yang ditulis dimasa Khalifah Abu Bakar yang disimpan oleh Hafsah untuk disalin dan oleh Hafsah lembaran-lembaran Al Qur'an itu diberikanlah kepada Khalifah Utsman bin Affan.
Oleh Utsman dibentuklah satu panitia, terdiri dari Zaid bin Tsabit, sebagai ketua, Abdullah bin Zubair, Sa'id bin 'Ash dan Abdur Rahman bin Harits bin Hisyam.
Tugas panitia ini ialah membukukan Al Qur'an, yakni menyalin dari lembaran-lembaran yang tersebut menjadi buku.
Al Qur'an yang telah dibukukan itu dinamai dengan "Al Mushhaf", dan oleh panitia ditulis lima buah Al Mushhaf. Empat buah diantaranya dikirim ke Mekah, Syria, Basrah dan Kufah, agar ditempat-tempat itu disalin pula dari masing-masing Mushhaf itu, dan satu buah ditinggalkan di Madinah, untuk Utsman sendiri, dan itulah yang dinamai dengan "Mushhaf Al Imam".
Sesudah itu Utsman memerintahkan mengumpulkan semua lembaran-lembaran yang bertuliskan Al Qur'an yang ditulis sebelum itu dan membakarnya. Maka dari Mushhaf yang ditulis di zaman Utsman itulah kaum Muslimin diseluruh pelosok menyalin Al Qur'an itu.

D. Perkembangan Tulisan Al Qur’an
Penulisan (pencatatan dalam bentuk teks) Al-Qur'an sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Kemudian transformasinya menjadi teks yang digunapakai sehingga sekarang ialah yang selesai dilakukan pada zaman khalifah Utsman bin Affan. Pada masa nabi Muhammad SAW sampai Utsman bin Affan tentang pengumpulan Al Qur’an sudah dibahas diatas. Sesudah sepeninggal Utsman, tulisan Mushaf mengalami perkembangan perkembangan, antara lain :
1. Pemberian Harakat (Nuqath al-I’rab)
Sebagaimana telah diketahui, bahwa naskah mushaf ‘Utsmani generasi pertama adalah naskah yang ditulis tanpa alat bantu baca yang berupa titik pada huruf (nuqath al-i’jam) dan harakat (nuqath al-i’rab) yang lazim kita temukan hari ini dalam berbagai edisi mushaf al-Qur’an. Langkah ini sengaja ditempuh oleh Khalifah ‘Utsman r.a. dengan tujuan agar rasm (tulisan) tersebut dapat mengakomodir ragam qira’at yang diterima lalu diajarkan oleh Rasulullah saw. Tetapi hal tersebut disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Gagasan pemberian harakat dikemukakan oleh Ziyad bin Abihi, beliau memberi tugas kepada Abu al-Aswad untuk memberi harakat yaitu fathah, kasrah, dhommah, dan tanwin. Bentuk-bentuk harakat awalnya berupa titik dan berwarna merah. kemudian diperbaiki lagi oleh murid murid Abu al-Aswad sehingga menjadi bentuk harakat seperti sekarang.

2. Pemberian Titik pada Huruf (Nuqath al-I’jam)
Pemberian tanda titik pada huruf ini memang dilakukan belakangan dibanding pemberian harakat. Pemberian tanda ini bertujuan untuk membedakan antara huruf-huruf yang memiliki bentuk penulisan yang sama, namun pengucapannya berbeda. Contohnya, (ba), (ta), (tsa) dalam huruf hijaiyyah mempunyai bentuk yang sama tetapi dibaca berbeda. Nuqath al-I’jam atau tanda titik ini pada mulanya berbentuk lingkaran, lalu berkembang menjadi bentuk kubus, lalu lingkaran yang berlobang bagian tengahnya.Tanda titik ini ditulis dengan warna yang sama dengan huruf, agar tidak sama dan dapat dibedakan dengan tanda harakat (nuqath al-i’rab) yang umumnya berwarna merah.

Percetakan Al Qur’an sudah dilakukan berkali-kali setelah adanya mesin cetak
1. Venesia atau Roma pada kisaran tahun 1499 sampai 1538 M
2. Hamburg pada tahun 1694
3. Batavia pada tahun 1698.
Tapi pencetakan tahun 1924 di Mesir adalah ikhtiyar yang luar biasa, karena upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah kodifikasi dan pembakuan Alquran sepanjang masa. Terbukti kemudian, Alquran Edisi Mesir itu merupakan versi Alquran yang paling banyak beredar dan digunakan oleh kaum Muslim. Kemudian pada tahun 1949, terdapat edisi mushaf yang bernama Makkah al-Mukkaramah dicetak oleh Syarikah Mushaf Makkah al-Mukarramah. Mushaf ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat arab maupun luar arab. Bahkan Raja Saudi waktu itu, Abd al-‘Aziz Al-Su’ud memberikan dukungan moril dan materil. Tiga puluh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1979, muncul pula mushaf edisi baru yang dicetak di kota Jeddah. Hingga akhirnya pada tahun 1984 (bertepatan dengan bulan Muharram 1405 H), pemerintah Kerajaan Arab Saudi resmi membuka sebuah percetakan al-Qur’an terbesar di dunia, tepatnya di kota Madinah al-Munawwarah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar